Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan Financindo – Harga emas masih sulit tembus level psikologis US$ 1.750/troy ons. Dalam dua pekan terakhir harga emas bergerak di rentang US$ 1.720 – US$ 1.745 per troy ons.

Pada perdagangan pagi akhir pekan ini, harga emas dunia di arena pasar spot mengalami kenaikan tipis sebesar 0,07% ke US$ 1.728/troy ons. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang sebelumnya tembus 1,7% sekarang sudah melandai di 1,6%.

Momen ini sebenarnya berpeluang membuat harga emas menguat. Namun di saat yang sama apresiasi dolar AS menahan kenaikan harga emas. Greenback dan emas merupakan dua aset yang cenderung bergerak berlawanan arah atau berkorelasi negatif.

Emas merupakan salah satu aset yang tidak memberikan imbal hasil. Return dari memegang aset ini sangat bergantung pada kepercayaan investor. Sementara itu kepercayaan investor itu sendiri dibangun oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah biaya peluang.

Kenaikan yield membuat biaya peluang memegang emas menjadi naik pula sehingga menekan harga si logam kuning. Namun di saat yield melemah, dolar AS justru menguat. Inilah yang membuat harga emas tertahan.

Pergerakan emas dan dolar AS cenderung berlawanan arah atau berkorelasi negatif. Ketika dolar AS menguat, maka harga emas cenderung mengalami koreksi. Begitu juga sebaliknya.

Faktor pemicu penguatan dolar AS adalah pernyataan ketua bank sentral AS Jerome Powell saat rapat kerja dengan Kongres. Kali ini dengan Komite Perbankan Senat. Dalam kesempatan tersebut Powell mengatakan ekonomi AS akan tumbuh dengan kuat tahun ini.

Prospek perekonomian yang lebih baik membuat yield terus menguat. Tren kenaikan yield diperkirakan bakal berlanjut. Para ekonom dan analis pasar melihat peluang yield bisa tembus 2,5%.

Apabila hal tersebut terjadi maka ini bukan hal yang baik untuk emas. Kenaikan yield mempengaruhi emas lewat dua hal. Pertama adalah opportunity cost dan kedua adalah naiknya yield memberikan momentum bagi dolar AS untuk terus menguat. Ini bakal menjadi pukulan ganda bagi emas.

Harga emas turun sekitar 11% dari level tertinggi yang terlihat di awal tahun. Banyak bank besar mulai merevisi perkiraan harga emas mereka seiring optimisme pemulihan ekonomi yang kuat terus tumbuh.

Credit Suisse adalah bank terbaru yang menurunkan perkiraan emasnya. Bank tersebut sekarang memperkirakan harga emas rata-rata tahun ini sekitar US$ 1.900/troy ons, turun dari perkiraan sebelumnya US$ 2.100.

Mereka juga melihat harga emas yang lebih rendah pada tahun 2022, dengan rata-rata emas sekitar US$ 2.100 tahun depan, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar US$ 2.300.

Meskipun beberapa analis melihat risiko jangka pendek lebih lanjut untuk emas, mereka memperingatkan bahwa aksi jual di pasar obligasi sudah berlebihan.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Kitco News, George Milling-Stanley, kepala strategi emas di State Street Global Advisors, mengatakan bahwa dalam lingkungan di mana Federal Reserve diharapkan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran nol persen di masa mendatang, imbal hasil obligasi pada 2% adalah salah satu bentuk irasionalitas di pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan