FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo - Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

Rifan Financindo – Harga logam mulia emas cenderung stagnan di perdagangan awal pekan ini, Senin (15/3/2021). Harga emas diperkirakan bakal lanjut menguat minggu ini setelah naik 1,5% pekan lalu.

Di arena pasar spot harga logam kuning tersebut dibanderol di US$ 1.726,5/troy ons. Emas kembali ke level psikologisnya di US$ 1.700/troy ons pasca anjlok ke US$ 1.681/troy ons minggu lalu.

Dolar AS dan imbal hasil surat utang Paman Sam tenor 10 tahun yang tadinya beringas sudah mulai melandai. Indeks dolar turun begitu juga yield obligasinya. Hal ini mendorong harga emas untuk ikut terkerek naik.

Tidak hanya emas, harga mata uang kripto yaitu Bitcoin juga kembali tembus rekor. Untuk pertama kalinya dalam sejarah harga satu Bitcoin di banderol di US$ 60.000. Emas dan Bitcoin memiliki beberapa kesamaan.

Kesamaan pertama adalah keduanya tidak bisa dicetak oleh bank sentral sebagaimana mata uang fiat yang selama ini digunakan untuk transaksi, unit akunting maupun store of wealth.

Pasokan emas dan Bitcoin pun cenderung stabil. Jumlah cadangan emas di dunia sangat tergantung pada aktivitas eksplorasi para penambang, begitu juga dengan produksinya yang relatif stabil.

Begitu juga dengan Bitcoin. Sejak pertama kali diluncurkan jumlah Bitcoin yang diizinkan untuk beredar hanya 21 juta unit. Sekarang sudah lebih dari 18,5 juta. Kedua karakteristik ini membuat emas dan Bitcoin dinilai cocok untuk digunakan sebagai aset lindung nilai (hedging), apalagi di tengah ekspektasi kenaikan inflasi.

Pelaku pasar mulai mengantisipasi adanya inflasi yang tinggi di masa depan akibat kebijakan makro yang akomodatif. Otoritas fiskal terutama AS masih menggelontorkan stimulus bernilai triliunan dolar AS sementara bank sentral masih menahan suku bunga di kisaran nol persen dan bakal melanjutkan pembelian aset keuangan senilai ratusan miliar dolar per bulan.

Meskipun begitu, kenaikan harga Bitcoin yang fantastis sebenarnya lebih diakibatkan oleh aksi spekulasi para pelaku pasar. Selera terhadap risiko yang pulih membuat investor lebih agresif memburu cuan. Salah satunya lewat Bitcoin sehingga emas cenderung kurang dilirik lagi karena adanya prospek pemulihan ekonomi tahun ini.

Namun sentimen untuk emas pekan ini juga relatif lebih baik. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kitco, baik analis Wall Street maupun responden di Main Street kompak meramal harga emas bakal naik minggu ini.

Pekan ini, 16 analis berpartisipasi dalam survei tersebut. Sebanyak 6 responden atau 38% meramal harga emas naik. Sementara itu, analis yang bearish dan netral jumlahnya sama yaitu lima orang atau 31% dari total responden.

Beralih ke Main Street, ada 1611 responden yang berpartisipasi dalam survei online. Di antara mereka, 1003 orang atau 62%, mengatakan mereka bullish pada emas minggu ini. Sebanyak 364 peserta lainnya atau 23% mengatakan mereka bearish, sementara 244 pemilih atau 15% netral pada logam mulia.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan