FILE PHOTO: Gold U.S. dollar bullion coins are seen in this photo illustration taken in Moscow, Russia, August 4, 2017. REUTERS/Maxim Shemetov - PT Rifan

Foto: REUTERS/Maxim Shemetov

PT Rifan – Mengawali perdagangan pertama pekan ini, Senin (22/2/2021), harga emas dunia di pasar spot mengalami apresiasi. Namun sejatinya harga emas masih berada dalam bayangan tren bearish-nya.

Pada pukul 08.00 WIB, harga emas di pasar spot menguat 0,15% dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu. Untuk 1 troy ons emas harganya dipatok di US$ 1.785. Harga emas terus tertekan dan kini berada di bawah US$ 1.800/troy ons.

Di sepanjang bulan Februari harga emas sudah drop 3,54%. Namun jika ditarik lebih ke belakang harga logam kuning tersebut ambrol 5,59%. Lebih mirisnya lagi, harga emas sudah drop 16,44% dari level tertingginya sepanjang sejarah sejak awal Agustus tahun lalu.

 

Salah satu pemicu koreksi tajam harga emas adalah prospek perekonomian yang lebih baik. Risk appetite investor pulih. Mereka yang dulunya cenderung konservatif kini berubah menjadi agresif.

Aset-aset berisiko seperti saham dan mata uang kripto mendadak menjadi primadona. Emas pun ditinggalkan. Bayangkan saja harga 1 unit Bitcoin sudah tembus US$ 50.000 dan nilai kapitalisasi pasarnya mencetak rekor karena melampaui US$ 1 triliun.

Bagi sebagian orang Bitcoin adalah aset spekulatif dan sekarang sedang menunjukkan fenomena bubble. Ya, investor yang tadinya memburu emas kemudian beralih ke saham, terutama di sektor-sektor teknologi.

Setelah valuasi saham di AS termasuk kemahalan karena saat ini S&P 500 ditransaksikan di 22,2x labanya (PER) dan di atas rata-rata jangka panjangnya di 15,3x, investor mulai berbondong-bondong membeli Bitcoin. Harganya pun meroket.

Namun kini ada satu risiko besar yang membayangi aset berisik yaitu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun sudah naik 12% minggu lalu.

Kenaikan suku bunga akan menjadi risiko di tengah tingginya valuasi saham terutama di AS. Analis Nomura memperingatkan jika imbal hasil obligasi pemerintah AS tembus 1,5% maka harga saham bisa ambruk 8%.

Kenaikan suku bunga juga tak hanya menjadi ancaman bagi saham saja tetapi juga bagi emas. Sebagai aset yang tak memberikan imbal hasil seperti dividen pada saham dan kupon pada bunga, minat terhadap emas sangat ditentukan oleh biaya peluangnya (opportunity cost).

Saat biaya peluangnya rendah, investor menjadi lebih yakin memegang emas. Namun kenaikan suku bunga yang tercermin dari yield obligasi pemerintah AS yang naik membuat pelaku pasar menjadi kurang tertarik untuk memegang aset yang tak memiliki imbal hasil seperti emas.

Survei yang dilakukan Kitco terhadap analis dan investor pun memperkirakan bahwa harga emas akan bearish minggu ini. Sebanyak 13 dari 18 analis Wall Street yang disurvei atau 71% dari responden berkata harga emas bakal bearish pekan ini.

Sementara itu di kalangan ritel, meski mayoritas tetap bullish tetapi proporsi responden yang pesimis terhadap harga emas juga tak bisa disepelekan. Sebanyak 40% responden menjawab harga emas kemungkinan akan bearish minggu ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan