FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo - PT Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan ditampilkan di Hatton Garden Metals, London pada 21 July 2015 (REUTERS/Neil Hall/File Photo)

PT Rifan Financindo – Nasib kurang baik sedang menimpa emas. Kemarin harganya anjlok ke bawah US$ 1.800/troy ons. Hari ini, Jumat (5/2/2021), harga logam kuning tersebut masih dalam kondisi tertekan.

Harga emas cenderung stagnan dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Setelah drop 2,26% dalam sehari, harga emas cuma naik tipis 0,07% ke US$ 1.793,6/troy ons. Untuk pertama kalinya harga emas anjlok ke bawah US$ 1.800/troy ons sejak bulan November lalu.

 

Harga emas yang terjun bebas mengindikasikan bahwa aset ini sedang kurang dilirik oleh para investor maupun trader. Selain itu penguatan greenback juga turut menekan harga si logam kuning.

Indeks dolar yang mencerminkan posisi greenback terhadap mata uang lainnya mengalami apresiasi hingga menyentuh level tertinggi sejak awal Desember tahun lalu. Dolar AS mulai bangkit pada pekan kedua Januari dan terus mengalami uptrend.

Dolar AS dan emas merupakan aset yang punya korelasi negatif. Artinya ketika emas dolar AS menguat harga emas cenderung melemah. Begitu juga sebaliknya, ketika mata uang Paman Sam tersebut melemah emas akan mendapat katalis positif.

Adanya prospek perekonomian yang lebih cerah dari yang diharapkan mulai diantisipasi oleh pelaku pasar. Banyak pihak yang khawatir pengetatan moneter atau tapering mulai akan dilakukan oleh bank sentral.

Namun sekali lagi bos The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pengetatan akan dilakukan secara bertahap dan sekarang belum ada urgensi ke arah sana.

Kendati pernyataan tersebut terus menerus ditegaskan oleh Powell, pelaku pasar belum mendapatkan sinyal yang kuat akan arah kebijakan moneter bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut.

Sebagai ketua The Fed, rekam jejak Powell tidak seperti gubernur-gubernur sebelumnya. Powell bukan dari kalangan ekonom. Memiliki background di bidang hukum kariernya sebelum di bank sentral adalah sebagai mitra atau partner di sebuah firma investasi AS.

Pria yang ditunjuk Trump sebagai nakhoda otoritas moneter AS itu dikenal sebagai seorang consensus builder ketimbang memiliki pandangan yang mendalam tentang makroekonomi layaknya ekonom-ekonom kawakan seperti Ben Bernanke dan Janet Yellen yang sempat menduduki jabatan Powell.

Apabila mengacu pada keterangan Powell, secara teori harga emas belum akan merosot. Justru harga emas masih berpotensi naik. Salah seorang analis dari Standard Chartered yakni Suki Cooper optimis harga emas masih berpeluang menguat.

Menurutnya kondisi makroekonomi sekarang ini dengan stance kebijakan moneter dovish, tren pelemahan dolar AS, imbal hasil riil obligasi pemerintah AS yang negatif, kebijakan stimulus fiskal jumbo di era pemerintahan Biden hingga ekspektasi inflasi yang tinggi masih menjadi katalis positif bagi logam mulia ini.

Hanya saja kondisi pasar saat ini tengah diwarnai dengan adanya aksi spekulasi baik di saham-saham teknologi AS maupun aset lain seperti cryptocurrency. Sebagai aset yang tak memberi imbal hasil tentu saja emas menjadi kurang dilirik karena ada aset lain yang lebih menarik dan memberikan cuan tebal.

Namun emas tetap punya peranan penting dalam portofolio investasi. Setidaknya emas bisa menjadi salah satu aset yang punya peranan untuk diversifikasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA  (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan