Investors look at computer screens showing stock information at a brokerage house in Shanghai, China September 7, 2018. REUTERS/Aly Song - PT Rifan

Foto: Bursa China (Reuters/Aly Song)

PT Rifan – Bursa saham Asia kompak dibuka melemah pada perdagangan Senin (18/1/21), seiring aksi pelaku pasar yang sedang menunggu dan mengamati rilis data pertumbuhan ekonomi di China yang akan dirilis pada pukul 10:00 waktu setempat atau pukul 09:00 WIB.

Indeks Nikkei Jepang dibuka merosot 0,98%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,42%, Shanghai Composite China turun 0,32%, Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi 0,32%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,19%.

Fokus pelaku pasar pada hari ini adalah data ekonomi China yang akan dirilis sekitar pukul 10:00 waktu setempat atau pukul 09:00 WIB, termasuk data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat negara tersebut, serta angka produksi industri dan penjualan ritel untuk Desember 2020.

 

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Amerika Serikat (AS), Trump memberi tahu beberapa pemasok raksasa telekomunikasi China, Huawei bahwa mereka mencabut lisensi tertentu untuk dijual ke perusahaan China tersebut.

Beralih ke Bursa Saham Negeri Paman Sam, Wall street ditutup terkoreksi pada perdagangan Jumat (15/1/21) akhir pekan lalu, di tengah rencana gelontoran stimulus raksasa yang akan dilakukan oleh Presiden terpilih Joseph ‘Joe’ Biden.

Dow Jones turun 0,6% ke 30.814,26. Sementara S&P 500 kehilangan 0,7% dan ditutup di 3.768,25, dan Indeks Nasdaq, yang kaya teknologi, juga harus kehilangan 0,9% atau turun ke 12.998,50.

Pasar mendapat sentimen negatif dari pemberitaan soal penjualan ritel Desember yang turun lebih jauh dari yang diharapkan. Karena konsumen dan bisnis masih berjuang di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Departemen Perdagangan mencatat penjualan ritel turun 0,7% pada Desember meskipun ada belanja liburan. Mengutip AFP, analis berujar ini memberikan pandangan bahwa ekonomi masih jauh dari pulih.

Paket Stimulus yang akan dikeluarkan oleh Biden dikhawatirkan akan berimplikasi pada kenaikan belanja pemerintah yang dapat menyebabkan kenaikan pajak lebih tinggi. Menurut catatan Wells Fargo Advisors, hal ini tak disukai para traders di Wall Street.

TIM RISET CNBC INDONESIA (chd/chd)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan