FILE PHOTO: An employee shows gold bullions at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su/File Photo - PT Rifan Financindo Berjangka

Foto: Emas Batangan di toko Degussa di Singapur, 16 Juni 2017 (REUTERS/Edgar Su)

PT Rifan Financindo Berjangka – Harga emas terus tertekan. Sekarang harga logam mulia tersebut sudah ditransaksikan di bawah level US$ 1.850/troy ons. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 10 hari harga emas sudah longsor US$ 100/gram.

Kamis (14/1/2021), harga emas terpangkas 0,28%. Di pasar spot harga bullion dipatok di US$ 1.836,5/troy ons. Di sepanjang pekan ini harga emas sudah drop 0,53%.

 

Kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Paman Sam masih membayangi emas. Indeks dolar yang mengukur posisi greenback terhadap mata uang lain sekarang betengger di level 90. Di saat yang sama yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di atas 1%.

Emas dan dolar merupakan kelas aset yang berkorelasi negatif kuat. Artinya arah geraknya berlawanan. Ketika dolar AS menguat maka ada kecenderungan harga emas terkoreksi.

Emas memang ditransaksikan dalam dolar AS, sehingga penguatan dolar AS akan membuat emas menjadi lebih mahal terutama bagi investor lain yang tidak memegang mata uang tersebut.

Kemudian penguatan dolar AS mengindikasikan adanya kemungkinan bahwa pasar melihat prospek perekonomian yang lebih bagus ke depan. Kecenderungan penguatan dolar AS juga mencerminkan kebutuhan likuiditas yang tinggi seperti halnya yang terjadi saat pasar anjlok pada Maret tahun lalu.

Sejarah historis penggunaan emas sebagai salah satu tools moneter juga turut membentuk hubungan antara dolar AS dan emas. Tren pelemahan mata uang Paman Sam juga dikaitkan dengan potensi inflasi yang tinggi sehingga investor beralih untuk memegang bentuk uang lain yang bisa digunakan untuk lindung nilai, dalam hal ini emas.

Permintaan emas selain untuk perhiasan dan berbagai aplikasi industri lain ditopang oleh kebutuhan sebagai salah satu kelas aset untuk diversifikasi dalam investasi. Namun minat investor terhadap emas sangat bergantung pada biaya peluang (opportunity cost) memegang aset minim risiko lain seperti obligasi pemerintah.

Kenaikan imbal hasil nominal tersebut turut menekan harga emas, meski sejatinya jika dikalkulasi lebih lanjut imbal hasil riilnya masih negatif karena inflasi di AS 1,2%.

Ekspektasi akan adanya stimulus fiskal tambahan adalah salah satu alasan di balik kenaikan imbal hasil instrumen investasi pendapatan tetap tersebut. Presiden terpilih Joe Biden diperkirakan akan merilis rincian rencana ekonominya pada hari Kamis.

Kemenangan Senat dari Partai Demokrat di Georgia semakin mengukuhkan bahwa Kongres kini telah dikuasai oleh Partai Biru sehingga kemungkinan jalannya stimulus fiskal jumbo bernilai triliunan dolar AS akan lebih mulus.

Selagi dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS masih tinggi kecil kemungkinan harga emas bisa bangkit.

Sementara itu kondisi di Washington DC masih panas. DPR AS (The House) sepakat untuk memakzulkan Presiden Donald Trump atas tindakannya yang dianggap menghasut para pendukungnya untuk menyerang Gedung Kongres di The Capitol minggu lalu.

Dalam kerusuhan tersebut setidaknya ada lima orang tewas termasuk anggota polisi The Capitol. Klausul pemakzulan Trump akan akan dikirimkan ke Senat dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Wakil Presiden Mike Pence mengatakan pada Selasa malam bahwa dia tidak akan mencopot Presiden Donald Trump dari jabatannya karena merasa hal tersebut bukan menjadi prioritas nasional saat ini.

Meski banyak pihak yang mendukung pencopotan Trump termasuk 8 anggota DPR dari Partai Republik, tetapi proses pemakzulan kemungkinan besar sulit untuk dilakukan sebelum pelantikan presiden ke-46 AS pada 20 Januari nanti.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)