FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo - PT Rifan

Foto: REUTERS/Leonhard Foeger

PT Rifan – Harga emas terjatuh lagi. Kali ini pemicunya adalah penguatan greenback. Namun ke depan analis dan pelaku pasar memandang bahwa prospek emas masih positif.

Kamis (10/12/2020) harga emas turun 0,11% dibanding posisi penutupan kemarin ke US$ 1.837,2 per troy ons di arena pasar spot. Sehari sebelumnya emas anjlok 1,7% dalam sehari.

Dolar AS sedang menguat, emas pun tertekan. Namun penguatan indeks dolar kali ini lebih diakibatkan oleh faktor teknikal karena sudah terkoreksi ke level terendah dalam 2,5 tahun terakhir.

Hasil survei terbaru dari Reuters terhadap 72 analis menunjukkan, sebanyak 39% memprediksi dolar AS akan melemah hingga 2 tahun ke depan. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan prediksi lainnya. Sebanyak 10% bahkan memperkirakan dolar AS masih akan melemah lebih dari 2 tahun ke depan.

Artinya, semua analis memprediksi dolar AS masih akan melemah, setidaknya hingga 3 bulan ke depan. Dengan demikian, dolar AS kemungkinan akan sepi peminat. Dolar AS yang masih berpotensi melemah membuat harga emas masih berpotensi untuk naik.

Saat ini dolar sedang mencari panggung untuk sementara waktu. Namun jika tren pelemahan dolar AS terus berlanjut dan inflasi mulai terlihat mengalami peningkatan, maka ini positif untuk emas.

Pasalnya emas merupakan salah satu aset yang berperan untuk lindung nilai (hedge) terhadap devaluasi mata uang dan adanya tekanan inflasi.

Setelah mengalami jatuh bangun belakangan ini, harga emas diperkirakan bakal menyentuh level tertingginya lagi di US$ 2.000/troy ons pada kuartal pertama tahun depan. Proyeksi tersebut disampaikan langsung oleh Suki Cooper dari Standard Chartered.

Anjloknya harga emas ke bawah level US$ 1.800/troy ons pada November lalu membuat harga logam kuning tersebut menyentuh level jenuh jualnya (oversold). Adanya outflow dari produk investasi berupa exchange traded fund (ETF) berbasis emas secara besar-besaran memicu koreksi tajam harga bullion.

Sampai saat ini kondisi makroekonomi global masih menguntungkan emas terutama karena posisi greenback yang tertekan dan kebijakan moneter longgar bank sentral global.

Lebih lanjut Cooper memperkirakan bahwa potensi koreksi harga emas masih ada dalam waktu dekat. Namun dolar AS yang melemah, suku bunga riil negatif, kekhawatiran seputar inflasi, dan ekspektasi stimulus fiskal lebih lanjut di tengah kebijakan moneter yang akomodatif kemungkinan akan memberi tekanan kepada emas.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)