Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - Rifan Financindo

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Rifan Financindo – Setelah longsor 4,6% dalam sehari di awal pekan ini akibat kabar positif vaksin Pfizer, harga emas belum kembali ke level psikologisnya US$ 1.900/troy ons. Harga logam kuning itu bergerak di rentang yang sempit sepanjang pekan ini.

Kamis (12/11/2020), harga emas di arena pasar spot menguat 0,34% dibanding posisi penutupan kemarin. Pada 08.55 WIB harga bullion dipatok di US$ 1.871,06/troy ons. Untuk periode 9-11 November harga emas bergerak di rentang US$ 1.861 – US$ 1.876.

Aksi jual besar-besaran emas terjadi di awal pekan ini. Hasil analisa awal data uji klinis tahap tiga menunjukkan kandidat vaksin Pfizer dan BioNTech dikabarkan memiliki tingkat keampuhan 90% dalam mencegah infeksi Covid-19.

Tentu saja pasar merespons positif kabar gembira tersebut meski banyak hal yang perlu dicermati terkait keampuhan vaksin Pfizer. Optimisme ekonomi akan kembali pulih dalam waktu dekat membuncah dan risk appetite investor meningkat.

Pada dasarnya saat ini pasar masih diliputi oleh berbagai risiko terutama dari makin melonjaknya infeksi Covid-19 di berbagai negara. Peningkatan infeksi yang terjadi membuat banyak negara menerapkan lockdown. 

Lockdown kali ini dinilai tidak semasif yang terjadi pada bulan Maret lalu. Namun tetap saja dampak ekonominya akan terasa terutama untuk negara-negara benua Eropa. Ini seharusnya menguntungkan emas.

Namun ke depan pendapat soal arah pergerakan emas terbelah. Ada yang bullish ada juga yang berpandangan bearish. Salah satu yang berpandangan bullish adalah Rob McEwen, Chairman McEwen Mining perusahaan tambang emas di Kanada.

Menurut McEwen, harga emas bisa tembus ke US$ 5.000/troy ons karena popularitasnya semakin meningkat di kalangan investor ritel. Dalam sebuah wawancara dengan Kitco News dia mencontohkan pergerakan saham-saham teknologi AS yang sangat populer dan mengalami kenaikan harga yang sangat tinggi.

Lebih lanjut ia juga menyoroti soal utang pemerintah yang menjadi sangat bengkak, sehingga emas menjadi salah satu alternatif untuk investasi yang menarik.

“Beban utang saat ini cukup menakutkan di AS dan banyak negara lain di seluruh dunia sebagai akibat dari apa yang terjadi, terkait dengan Covid. Ada ambang batas ketika utang terhadap PDB mencapai 130%, ada kemungkinan gagal bayar yang sangat nyata, “katanya.

Berbeda dengan McEwen, Carley Garner selaku pendiri DeCarley Trading justru memberikan sinyal bearish pada emas. “Saya percaya bahwa dolar AS berada di titik terendah sehingga setiap reli emas dan perak harus dijual,” katanya.

Garner mengatakan bahwa selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah AS dan negara lain akan terus memberikan dukungan untuk dolar AS.

“Federal Reserve tidak mengharapkan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi bahkan pada level saat ini, mereka masih jauh lebih tinggi daripada imbal hasil negatif di Eropa,” katanya.

“Saya pikir kita mungkin akan melihat banyak investasi asing dolar datang ke AS untuk membeli treasury dan mungkin bahkan saham. Itu seharusnya menahan dolar. Investor mencari keuntungan terbesar dari uang mereka, akan menginginkan obligasi pemerintah AS. ”

Menurut Garner peluang emas bakal rontok ke US$ 1.500 terbuka. Memang akan butuh waktu untuk emas kembali anjlok. Namun ia mencontohkan kejadian pada 2011 ketika harga emas berada di puncak dan anjlok signifikan pada 2013.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan