FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo - PT Rifan

Foto: REUTERS/Leonhard Foeger

PT Rifan – Harga emas dunia kembali terpelanting. Pada perdagangan kemarin, harga logam mulia tersebut drop nyaris 2% akibat ketidakjelasan seputar stimulus ekonomi lanjutan di AS serta proyeksi ekonomi global tahun ini yang lebih baik dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Koreksi harga emas juga terjadi di saat yang sama saat Wall Street ditutup di zona merah. Sekali lagi, emas dan saham dalam jangka pendek bergerak searah. Selain aksi ambil untung lantaran sudah menguat, pasar juga mulai merespons mentoknya stimulus fiskal AS.

Nancy Pelosi, Ketua House of Representatives (salah satu dari dua kamar yang membentuk Kongres AS), menolak proposal stimulus dari pemerintah yang bernilai US$ 1,8 triliun. Sebenarnya angka tersebut sudah dinaikkan oleh Trump.

Namun tetap saja, jumlah tersebut lebih rendah ketimbang usulan Partai Demokrat yaitu US$ 2,2 triliun. Sementara itu Partai Republik mengusulkan paket stimulus kali ini nominalnya tak lebih dari US$ 1,5 triliun.

“(Nilai stimulus) sangat kurang untuk mengatasi kebutuhan penanganan pandemi dan resesi yang begitu dalam,” tegas Pelosi, seperti diberitakan Reuters. Tarik ulur soal stimulus ini menjadi sentimen negatif bagi emas.

Maklum, sebagai aset lindung nilai dari depresiasi nilai tukar emas diuntungkan dengan masifnya stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan pemerintah serta bank sentralnya untuk meredam dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian.

Stimulus jumbo tersebut membuat investor memasukkan emas ke dalam portofolio mereka. Minat investor terhadap aset tak berimbal hasil emas ini tercermin kenaikan harga emas sebesar 25% lebih sepanjang tahun ini.

Namun ketidakjelasan seputar stimulus yang menjadi bensin bagi reli harga emas membuat dolar AS menguat 0,5%. Dolar AS dan emas bergerak berlawanan arah. Ketika dolar AS menguat, harga emas akan menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga bisa menurunkan minat.

Harga emas pun melorot 1,62% ke US$ 1.890,8/troy ons pada perdagangan kemarin (13/10/2020). Selain soal stimulus ramalan IMF yang memperkirakan ekonomi global hanya terkontraksi 4,4% tahun ini juga jadi sentimen buruk bagi logam kuning itu.

Pada laporan World Economic Prospect versi Juni, IMF memperkirakan output perekonomian global terkontraksi 4,9%. Namun belakangan dalam rilis laporan terbarunya proyeksi tersebut direvisi naik.

“Ekonomi dunia perlahan mulai keluar dari jurang terdalam. Namun dengan virus corona yang masih menyebar, beberapa negara mulai mengerem pembukaan kembali aktivitas publik (reopening) dan sebagian bahkan mulai menerapkan karantina wilayah (lockdown) skala lokal. Perjalanan pemulihan ekonomi dunia ke level pra-pandemi masih panjang dan rentan berbalik arah,” tulis laporan itu.

Meskipun IMF sedikit lebih optimistis dalam proyeksinya, hari ini Rabu (14/10/2020), harga emas menguat 0,13% ke US$ 1.893,3/troy ons. Kabar buruk seputar vaksin Johnson & Johnson seolah menunjukkan bahwa risiko ketidakpastian masih tinggi.

“Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa kehadiran vaksin sepertinya masih memakan waktu. Johnson & Johnson beberapa pekan lalu cukup menjanjikan, tetapi sekarang berbalik arah,” ujar Oliver Pursche, Presiden Bronson Meadows Capital yang berbasis di Connecticut, sebagaimana diwartakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)