Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder - PT Rifan

Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

PT Rifan – Harga emas pagi ini sedikit terkoreksi setelah ditutup dengan kenaikan semalam. Melemahnya dolar alias greenback terhadap mata uang lain masih jadi alasan mengapa harga emas bisa menguat tadi malam.

Pada 08.35 WIB, harga logam mulia emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.910,31/troy ons atau melemah 0,13%. Pada saat yang sama indeks dolar yang mencerminkan posisi dolar AS terhadap mata uang lain juga melemah 0,1%.

Selama ini emas dan dolar AS bergerak berlawanan arah atau berkorelasi negatif. Meski harga emas saat ini terkoreksi ada kecenderungan emas masih akan menguat. Pelemahan dolar AS tak terlepas dari kabar terkait stimulus lanjutan untuk bantuan Covid-19 di AS.

Menteri Keuangan Paman Sam yakni Steven Mnuchin dan Ketua DPR Nancy Pelocy dikabarkan bakal kembali berdiskusi Selasa ini waktu setempat membahas kelanjutan paket stimulus tersebut.

Kebijakan moneter yang ultra longgar hingga adanya stimulus jumbo yang digelontorkan oleh pemerintah telah membuat harga emas melesat lebih dari 20% sepanjang tahun ini.

Injeksi likuiditas dan banyaknya pasokan uang dikhawatirkan bakal memicu inflasi di masa depan. Sebagai bank sentral paling berpengaruh di dunia, the Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan mendekati nol persen untuk jangka waktu yang lama setidaknya sampai 2023 (lower for longer).

Posisi (stance) the Fed masih dovish. Kini the Fed juga menerapkan kerangka kebijakan moneter yang bersifat average inflation targeting (AIT) yang secara sederhana otoritas moneter tersebut bakal membiarkan inflasi naik lebih tinggi asalkan rata-ratanya tetap di kisaran target sasaran 2%.

Reuters mengabarkan Presiden Chicago Federal Reserve Bank Charles Evans mengatakan pada hari Senin bahwa dia memperkirakan inflasi AS akan mencapai 2% pada tahun 2023 dan ingin mendorongnya menjadi 2,5% untuk mengimbangi kenaikan harga di bawah target selama bertahun-tahun.

Masifnya stimulus yang digelontorkan membuat adanya ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan investor pun mencari suaka dengan mendiversifikasi asetnya. Emas menjadi salah satu aset yang dilirik.

Apalagi saat ini opportunity cost untuk memegang aset tak berimbal hasil sedang rendah, mengingat aset safe haven lainnya yaitu obligasi pemerintah terutama pemerintah AS sudah memberikan yield riil yang berada di teritori negatif.

Semalam, Trump akhirnya kembali ke Gedung Putih setelah dirawat di rumah sakit selama tiga malam pasca dirinya dikabarkan terjangkit Covid-19. Trump bahkan berpose di depan awak media dengan melepaskan maskernya.

Kembalinya Trump ke Gedung Putih yang mengindikasikan siap bekerja lagi membuat pasar pun sumringah. Semalam tiga indeks saham utama Wall Street berhasil melenggang ke zona hijau.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 1,68%. Indeks S&P 500 menguat 1,8% dan Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 2,32%. Belakangan ini emas dan saham memiliki pergerakan yang cukup seirama dan semalam pun kembali menunjukkan hal yang sama.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Sumber : CNBC Indonesia
Baca Juga :

Info Lowongan Kerja

Rifan Financindo
PT Rifan Financindo
PT Rifan