JAKARTA – Pelemahan ekonomi global saat ini masih menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perlambatan ekonomi China hingga penurunan harga komoditas pun dikhawatirkan akan berimbas terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Namun, selain ekonomi China dan harga komoditas yang masih belum stabil, Indonesia masih harus mewaspadai beberapa sektor yang juga akan berdamoak terhadap kestabilan pasar di Indonesia. Baik dalam bidang politik, perbankan, hingga sektor energi.

Berikut empat sentimen global yang akan mempengaruhi perekonomian Indonesia hari ini, seperti dikutip riset IDX Channel, Jakarta, Kamis (28/4/2016).

Pada bidang politik, pemilihan umum Presiden Amerika Serikat patut diperhatikan secara seksama. Bakal calon Presiden dari Partai Republik Donald Trump dan Hillary Clinton tercatat telah memenangkan surat untuk pemilihan pendahuluan Presiden di sejumlah Negara Bagian Timur Amerika Serikat. Trump memenangkan suara di lima negara bagian Rabu pekan ini, yaitu di Pennsylvania, Connecticut, Maryland, Delaware dan Rhode Island. Trump juga diperkirakan memiliki momentum untuk memenangkan pemungutan suara di India.

Pemilihan Presiden ini tentunya akan berdampak terhadap dunia usaha di Indonesia. Terutama bagi pengusaha yang dikenal memiliki kedekatan terhadap calon-calon Presiden di Amerika Serikat.

Pada sektor perbankan, kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/the Fed) juga masih akan mempengaruhi pasar di Indonesia. Pasalnya, hal ini dapat mempengaruhi arus dana asing yang masuk ke Indonesia yang saat ini telah mencapai Rp71 triliun.

“Dana dari Januari hingga Minggu ketiga April kira-kira mencapai Rp71 triliun. Itu lebih besar dibanding periode yg sama tahun lalu kira-kira Rp50 triliun. Kelihatan banyak koorporasi yang melepas dolarnya sehingga terjadi penguatan. Tapi kita tetap kita mesti waspada ke depan,? kata Gubernur Bank Indonesia saat ditemui di kantornya, Jumat, 22 April 2016.

The Development Bank of Singapore (DBS) memperkirakan the Fed masih akan meningkatkan suku bunga acuan sebanyak 75 basis poin tahun ini secara bertahap dari 0,5 persen saat ini. Kenaikan Fed Fund Rate diperkirakan mulai dilakukan Juni tahun ini sebesar 25 basis poin.

Apabila the Fed tetap pada kebijakan untuk menaikkan tingkat acuan suku bunga atau Fed Fund Rate, maka Indonesia perlu mewaspadai arus capital outflow yang dapat mengucur deras pasca kepastian suku bunga the Fed.

Pada sektor energi, kabar baik datang dari perdagangan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI). Pada Rabu, 27 April kemarin, Harga minyak WTI kontrak pengiriman Juni 2016 di New York Mercantile Exchange naik 95 persen ke level USD44,91 per barel dibanding hari sebelumnya pada perdagangan pukul 15:00 WIB. Artinya, harga minyak mentah dunia kini telah mulai mendekati asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2016 sebesar USD50 per barel.

Kenaikan harga didorong oleh laporan American Petroleum Institute yang menyebutkan cadangan minyak AS pekan lalu turun 1,07 juta barel. Bank Dunia memprediksi harga minyak WTI sepanjang tahun ini akan berada di level USD41 per barel. Harga minyak diperkirakan tidak lagi turun ke level USD26 per barel pada Februari 2016.

Selanjutnya, aksi bisnis perusahaan e-commerce raksasa dunia Alibaba ke pasar Asia Tenggara, termasuk membidik Indonesia, diperkirakan akan meningkatjkan pasar e-commerce di Indonesia.

Presiden RI Joko Widodo mengatakan pelaku usaha di industri e-commerce agar tetap fokus mengembangkan bisnisnya dan berhati-hati terhadap persaingan, seperti Tokopedia, Go-Jek, Blibli, dan Traveloka

(dni)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/04/28/20/1374852/4-sentimen-global-yang-pengaruhi-ekonomi-ri-hari-ini